''Mengembara fikiran dalam gugusan hujan, menyapa awal musim pada tangkai-tangkai daun, merapah diwarisan bumi''
Sabtu, 14 Agustus 2021
Minggu, 08 Agustus 2021
Trotoar Batu dan Malam Sepenuh Hati
DKx Lampu ja
Lampu jalan berpendar sampai jauh temaram, menyelinap masuk disela dedaunan dan berkejaran dengan angin malam. Malam begitu setia kepada detik waktu yang melingkar kaku dipergelangan tangan. Saat ramai orang-orang pulang ke pangkuan dia turun dari angkutan dengan pijakan pasti di trotoar disusul langkah bersekian resah yang terlepas.
“trotoar ini rapih dan panjang” dia bilang itu pelan. Kemudian dia berhenti di persimpangan jalan yang jadi tambatan dan melihat daun pintu kaca tak malu buka tutup memanjakan matanya. Dibalik pintu itu ada kisah berjuta kata tak tertuliskan, lembaran-lembaran kosong berterbangan di langit-langit hatinya. Maka dia berjalan cepat menuju pintu itu dan membukanya kemudian lalu bersegera.
Dia tunggu hangat hati dari api tak berjelaga merasuk sangat dalam hingga berjuta candela berkumpul. Sampailah di sebuah tangga angkuh gedung tinggi, anak tangga terakhir yang dia lihat, setangkup rindu bersambut raga manis dan gemulai dengan senyum hangat, tak beralasan waktu untuk mengakhiri pertemuan itu. Berbait-bait kalimat dia ingin simpan di atas kertas putih dilipat kecil-kecil dalam saku terdalam agar abadi, yang bisa dia buka saat kehilangan berwujud seperti nyata.
Dalam sinar mata iris coklat yang hampa ketiadaan keduanya saling bertemu sampaikan pesan-pesan hati, mengikat yang terlepas, menghimpun yang berparak, seraya bak memuja di altar dewa dalam legendanya. Lingkaran tangan dipinggang jauhkan keraguan hati. Lafal kata bagai tangisan bidadari lirih ke cuping telinga.
“aku di sini sepenuh hati” bisikan itu sampai di telinganya. Bergema menguntai doa agar disatukan dalam janji. Lalu mereka berjalan diatas trotoar batu tenggelam di malam sepenuh hati menunggu malam-malam menjemput dipangkuan.lan berpendar sampai jauh temaram, menyelinap Lampu Lampu jalan berpendar sampai jauh temaram, menyelinap masuk disela dedaunan dan berkejaran dengan angin malam. Malam begitu setia kepada detik waktu yang melingkar kaku dipergelangan tangan. Saat ramai orang-orang pulang ke pangkuan dia turun dari angkutan dengan pijakan pasti di trotoar disusul langkah bersekian resah yang terlepas.
“trotoar ini rapih dan panjang” dia bilang itu pelan. Kemudian dia berhenti di persimpangan jalan yang jadi tambatan dan melihat daun pintu kaca tak malu buka tutup memanjakan matanya. Dibalik pintu itu ada kisah berjuta kata tak tertuliskan, lembaran-lembaran kosong berterbangan di langit-langit hatinya. Maka dia berjalan cepat menuju pintu itu dan membukanya kemudian lalu bersegera.
Dia tunggu hangat hati dari api tak berjelaga merasuk sangat dalam hingga berjuta candela berkumpul. Sampailah di sebuah tangga angkuh gedung tinggi, anak tangga terakhir yang dia lihat, setangkup rindu bersambut raga manis dan gemulai dengan senyum hangat, tak beralasan waktu untuk mengakhiri pertemuan itu. Berbait-bait kalimat dia ingin simpan di atas kertas putih dilipat kecil-kecil dalam saku terdalam agar abadi, yang bisa dia buka saat kehilangan berwujud seperti nyata.
Dalam sinar mata iris coklat yang hampa ketiadaan keduanya saling bertemu sampaikan pesan-pesan hati, mengikat yang terlepas, menghimpun yang berparak, seraya bak memuja di altar dewa dalam legendanya. Lingkaran tangan dipinggang jauhkan keraguan hati. Lafal kata bagai tangisan bidadari lirih ke cuping telinga.
“aku di sini sepenuh hati” bisikan itu sampai di telinganya. Bergema menguntai doa agar disatukan dalam janji. Lalu mereka berjalan diatas trotoar batu tenggelam di malam sepenuh hati menunggu malam-malam menjemput dipangkuan. berpendar sampai jauh temaram, menyelinap masuk disela dedaunan dan berkejaran dengan angin malam. Malam begitu setia kepada detik waktu yang melingkar kaku dipergelangan tangan. Saat ramai orang-orang pulang ke pangkuan dia turun dari angkutan dengan pijakan pasti di trotoar disusul langkah bersekian resah yang terlepas.
“trotoar ini rapih dan panjang” dia bilang itu pelan. Kemudian dia berhenti di persimpangan jalan yang jadi tambatan dan melihat daun pintu kaca tak malu buka tutup memanjakan matanya. Dibalik pintu itu ada kisah berjuta kata tak tertuliskan, lembaran-lembaran kosong berterbangan di langit-langit hatinya. Maka dia berjalan cepat menuju pintu itu dan membukanya kemudian lalu bersegera.
Dia tunggu hangat hati dari api tak berjelaga merasuk sangat dalam hingga berjuta candela berkumpul. Sampailah di sebuah tangga angkuh gedung tinggi, anak tangga terakhir yang dia lihat, setangkup rindu bersambut raga manis dan gemulai dengan senyum hangat, tak beralasan waktu untuk mengakhiri pertemuan itu. Berbait-bait kalimat dia ingin simpan di atas kertas putih dilipat kecil-kecil dalam saku terdalam agar abadi, yang bisa dia buka saat kehilangan berwujud seperti nyata.
Dalam sinar mata iris coklat yang hampa ketiadaan keduanya saling bertemu sampaikan pesan-pesan hati, mengikat yang terlepas, menghimpun yang berparak, seraya bak memuja di altar dewa dalam legendanya. Lingkaran tangan dipinggang jauhkan keraguan hati. Lafal kata bagai tangisan bidadari lirih ke cuping telinga.
“aku di sini sepenuh hati” bisikan itu sampai di telinganya. Bergema menguntai doa agar disatukan dalam janji. Lalu mereka berjalan diatas trotoar batu tenggelam di malam sepenuh hati menunggu malam-malam menjemput dipangkuan. disela dedaunan dan berkejaran dengan angin malam. Malam begitu setia kepada detik waktu yang melingkar kaku dipergelangan tangan. Saat ramai orang-orang pulang ke pangkuan dia turun dari angkutan dengan pijakan pasti di trotoar disusul langkah bersekian resah yang terlepas.
“trotoar ini rapih dan panjang” dia bilang itu pelan. Kemudian dia berhenti di persimpangan jalan yang jadi tambatan dan melihat daun pintu kaca tak malu buka tutup memanjakan matanya. Dibalik pintu itu ada kisah berjuta kata tak tertuliskan, lembaran-lembaran kosong berterbangan di langit-langit hatinya. Maka dia berjalan cepat menuju pintu itu dan membukanya kemudian lalu bersegera.
Dia tunggu hangat hati dari api tak berjelaga merasuk sangat dalam hingga berjuta candela berkumpul. Sampailah di sebuah tangga angkuh gedung tinggi, anak tangga terakhir yang dia lihat, setangkup rindu bersambut raga manis dan gemulai dengan senyum hangat, tak beralasan waktu untuk mengakhiri pertemuan itu. Berbait-bait kalimat dia ingin simpan di atas kertas putih dilipat kecil-kecil dalam saku terdalam agar abadi, yang bisa dia buka saat kehilangan berwujud seperti nyata.
Dalam sinar mata iris coklat yang hampa ketiadaan keduanya saling bertemu sampaikan pesan-pesan hati, mengikat yang terlepas, menghimpun yang berparak, seraya bak memuja di altar dewa dalam legendanya. Lingkaran tangan dipinggang jauhkan keraguan hati. Lafal kata bagai tangisan bidadari lirih ke cuping telinga.
“aku di sini sepenuh hati” bisikan itu sampai di telinganya. Bergema menguntai doa agar disatukan dalam janji. Lalu mereka berjalan diatas trotoar batu tenggelam di malam sepenuh hati menunggu malam-malam menjemput dipangkuan.
Lampu jalan berpendar sampai jauh temaram, menyelinap masuk disela dedaunan dan berkejaran dengan angin malam. Malam begitu setia kepada detik waktu yang melingkar kaku dipergelangan tangan. Saat ramai orang-orang pulang ke pangkuan dia turun dari angkutan dengan pijakan pasti di trotoar disusul langkah bersekian resah yang terlepas.
“trotoar ini rapih dan panjang” dia bilang itu pelan. Kemudian dia berhenti di persimpangan jalan yang jadi tambatan dan melihat daun pintu kaca tak malu buka tutup memanjakan matanya. Dibalik pintu itu ada kisah berjuta kata tak tertuliskan, lembaran-lembaran kosong berterbangan di langit-langit hatinya. Maka dia berjalan cepat menuju pintu itu dan membukanya kemudian lalu bersegera.
Dia tunggu hangat hati dari api tak berjelaga merasuk sangat dalam hingga berjuta candela berkumpul. Sampailah di sebuah tangga angkuh gedung tinggi, anak tangga terakhir yang dia lihat, setangkup rindu bersambut raga manis dan gemulai dengan senyum hangat, tak beralasan waktu untuk mengakhiri pertemuan itu. Berbait-bait kalimat dia ingin simpan di atas kertas putih dilipat kecil-kecil dalam saku terdalam agar abadi, yang bisa dia buka saat kehilangan berwujud seperti nyata.
Dalam sinar mata iris coklat yang hampa ketiadaan keduanya saling bertemu sampaikan pesan-pesan hati, mengikat yang terlepas, menghimpun yang berparak, seraya bak memuja di altar dewa dalam legendanya. Lingkaran tangan dipinggang jauhkan keraguan hati. Lafal kata bagai tangisan bidadari lirih ke cuping telinga.
“aku di sini sepenuh hati” bisikan itu sampai di telinganya. Bergema menguntai doa agar disatukan dalam janji. Lalu mereka berjalan diatas trotoar batu tenggelam di malam sepenuh hati menunggu malam-malam menjemput dipangkuan.
Lampu jalan berpendar sampai jauh temaram, menyelinap masuk disela dedaunan dan berkejaran dengan angin malam. Malam begitu setia kepada detik waktu yang melingkar kaku dipergelangan tangan. Saat ramai orang-orang pulang ke pangkuan dia turun dari angkutan dengan pijakan pasti di trotoar disusul langkah bersekian resah yang terlepas.
“trotoar ini rapih dan panjang” dia bilang itu pelan. Kemudian dia berhenti di persimpangan jalan yang jadi tambatan dan melihat daun pintu kaca tak malu buka tutup memanjakan matanya. Dibalik pintu itu ada kisah berjuta kata tak tertuliskan, lembaran-lembaran kosong berterbangan di langit-langit hatinya. Maka dia berjalan cepat menuju pintu itu dan membukanya kemudian lalu bersegera.
Dia tunggu hangat hati dari api tak berjelaga merasuk sangat dalam hingga berjuta candela berkumpul. Sampailah di sebuah tangga angkuh gedung tinggi, anak tangga terakhir yang dia lihat, setangkup rindu bersambut raga manis dan gemulai dengan senyum hangat, tak beralasan waktu untuk mengakhiri pertemuan itu. Berbait-bait kalimat dia ingin simpan di atas kertas putih dilipat kecil-kecil dalam saku terdalam agar abadi, yang bisa dia buka saat kehilangan berwujud seperti nyata.
Dalam sinar mata iris coklat yang hampa ketiadaan keduanya saling bertemu sampaikan pesan-pesan hati, mengikat yang terlepas, menghimpun yang berparak, seraya bak memuja di altar dewa dalam legendanya. Lingkaran tangan dipinggang jauhkan keraguan hati. Lafal kata bagai tangisan bidadari lirih ke cuping telinga.
“aku di sini sepenuh hati” bisikan itu sampai di telinganya. Bergema menguntai doa agar disatukan dalam janji. Lalu mereka berjalan diatas trotoar batu tenggelam di malam sepenuh hati menunggu malam-malam menjemput dipangkuan.
Ruang Lingkup Biologi
BAB 1
1. Tingkat molekul dan sel (kemdikbud.go.id)
2. Tingkat jaringan dan organ (kemdikbud.go.id)
3. Tingkat Individu dan populasi (kemdikbud.go.id)
4. Tingkat ekosistem dan bioma (kemdikbud.go.id)
Pemanfaatn Biologi Bagi Manusia Dan Lingkugannya
pemanfaatn Biologi Dalam Bidang Kedokteran
Pemanfaatn Biologi Dalam Bidang Pertanian
Pemanfaatan Biologi Dalam Bidang Peternakan
Pemanfaatan Biologi Dalam Bidang Perikanan
Pemanfaatan Biologi Dalam Bidang
Kamis, 05 Agustus 2021
Rabu, 23 Juni 2021
TOGA SEBAGAI LABORATORIUM ALAMI
Sabtu, 28 April 2012
Ping Instan untuk Mempercepat koneksi WiFi
2. ketik: ping
DAUN
menjadikan semuanya enggan didiamkan
enggan menjadikan sepi dan tak terpadamkan
Rabu, 30 November 2011
TUGAS PERILAKU ORGANISASI (pasca sarjana)
- Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.
- Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai.
- Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak-pihak yang terlibat.
- Resolusi Konflik, menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.
- Pengembangan Organisasi merupakan suatu proses yang meliputi serangkaian perencanaan perubahan yang sistematis yang dilakukan secara terus-menerus oleh suatu organisasi
- Pengembangan Organisasi merupakan suatu pendekatan situasional atau kontingensi untuk meningkatkan efektifitas organisasi
- Pengembangan Organisasi lebih menekankan pada sistem sebagai sasaran perubahan
- Pengembangan Organisasi meliputi perubahan yang sengaja direncanakan
- Menciptakan keharmonisan hubungan kejra antara pimpinan dengan staf anggota organisasi
- Menciptakan kemampuan memecahkan persoalan organisasi secara lebih terbuka
- Menciptakan keterbukaan dalam berkomunikasi
- Merupakan semangat
- kerja para anggota organisasi dan kemampuan mengendalikan diri
- Latihan Kepekaan (sensitivity taining); Merupakan teknik pengembangan yang pertama diperkenalkan dan ayang dahulu paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group. Dalam kelompok kelomok T (singkatan training) yang masing masing terdiri atas 6 – 10 peserta, pemimpin kelompok (terlatih) membimbing peserta meningkatkan kepekaan (sensitivity) terhadap orang lain, serta ketrampilan dalam hubunga antar-pribadi.
- Kisi Pengembangan Organisas; Pendekatan grip pada pengembangan organisasi di dasarkan pada konsep managerial grip yang diperkenalkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Konsep ini mengevaluasi gaya kepemimpinan mereka yang kurang efektif menjadi gaya kepemimpinan yang ideal, yang berorientasi maksimum pada aspek manusia maupun aspek produksi.
- Survai Umpan Balik; Tiap peserta diminta menjawab kuesioner yang dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya persepsi tentang kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil surveini diumpan balikkan pada setiap peserta, termasuk pada para penyelia dan manajer yang terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kuliah atau lokakarya yang mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan perbaikan konstruktif.
- Konsultasi Proses; Dalam Process consultation, konsultan pengembangan organisasi mengamati komunikasi, pola pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan, metode kerjasama, dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Konsultan kemudian memberikan umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya, serta menganjurkan tindakan koreksi.
- Pembentukan Tim; Adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektivitas serta kepuasaan tiap individu dalam kelompok kerjanya atau tim. Teknik tim building sangat membantu meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek dan organisasinya bersifat matriks.
- Transcational Analysis (TA); TA berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar-individu. TA mengajarkan cara menyampaikan pesan yang jelas dan bertanggung jawab, serta cara menjawab yang wajar dan menyenangkan. TA dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan komunikasi yang buruk dan menyesatkan.
- Intergroup Activities; Fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan hubungan baik antar-kelompok.Ketergantungan antar kelompok , yang membentuk kesatuan organisasi, menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Intergroup activities dirancang untuk meningkatkan kerjasama atau memecahkan konflik yang mungkin timbul akibat saling ketergantungan tersebut.
- Third-party Peacemaking;Dalam menerapkan teknik ini, konsultan pengembangan organisasi berperan sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar-individu dan kelompok.






